The Simple Habit That Saves My Evenings

The Simple Habit That Saves My Evenings

Sebuah kebiasaan kecil yang selalu menyelamatkan waktuku di malam hari—dan menjaga work-life balance as a software engineer.

profile

Sayidina Ahmadal Qososyi

2025/09/28


0 views
3 min read
0 likes

Introduction

Sebagai seorang software engineer, kita semua tau rasanya ketika pekerjaan lagi banyak-banyaknya, sementara waktu fokus tanpa gangguan itu rasanya kayak barang mewah. Slack bunyi, meeting datang tiba-tiba, ada yang keluar, atau kadang otak sendiri udah capek duluan sebelum kerjaan selesai.

Tapi anehnya, sering kali flow kerja paling produktif justru datang di akhir hari kerja. Dan di situlah masalah biasanya dimulai.

The "20 Minutes" Trap

Kamu pasti pernah ngalamin momen ketika akhirnya nemu solusi elegan buat bug yang udah kamu kejar seharian. Semangat naik, adrenalin jalan, dan kamu berpikir:

"20 menit lagi deh, pasti kelar kok."

Padahal… ya kamu tau sendiri. Bukannya 20 menit, tapi 2–3 jam. Tiba-tiba kamu sadar sudah malam, kamu lapar, lelah, dan ironisnya: solusi yang kamu pikir akan selesai cepat malah makin banyak edge case-nya.

Yang lebih parah—kamu berenti kerja dalam kondisi drained dan mulai hari besok dengan energi sisa.

Pengalaman Pribadi dari Masa Startup

Aku ngalamin hal ini sekitar beberapa tahun yang lalu saat join di sebuah startup yang lagi akslerasi. Suasana environment kerja seru, semua orang ngebut, dan commit baru bisa sampai per 20 menit tiap hari.

Suatu malam, aku merasa akhirnya berhasil memecahkan bagian sulit dari infrastruktur yang lagi aku garap. Pikiran pertama: "Ah, 20 menit lagi kelar nih."

Tapi 20 menit itu berubah jadi lebih dari 3 jam. Aku berenti kerja dalam kondisi capek dan kesal, dan hasilnya? Nyaris nggak ada progress.

Keesokan paginya, pas mulai kerja, aku sadar kondisi tubuhku: capek duluan sebelum mulai. Saat itu juga aku ngerti satu hal penting: lebih baik berhenti, tulis langkah selanjutnya, dan selesaikan besok.

Tapi Gimana Kalau Benar-Benar Bisa Kelar 20 Menit?

Ya, secara teori bisa. Tapi jujur: risikonya jauh lebih besar daripada hadiahnya.

Daripada gambling di akhir hari, ada kebiasaan yang jauh lebih aman dan jauh lebih efektif:

Kebiasaan yang Menyelamatkan Malamku

Alih-alih memaksa menyelesaikan task, gunakan 10–20 menit terakhir hari kerjamu untuk:

  1. Menuliskan pikiranmu
  2. Membuat step-by-step action plan untuk besok
  3. Meninggalkan sedikit "rasa gantung" agar besok mulai dengan momentum

Dengan cara ini:

  • Kamu menutup hari dengan kepala yang lebih ringan.
  • Kamu pulang tepat waktu.
  • Kamu memulai hari esok dengan rencana matang.
  • Fokusmu besok jauh lebih tajam karena kamu datang dengan energi penuh.

Dan bonusnya—sering kali ide baru justru muncul setelah otak kamu istirahat.

Mengapa Ini Bekerja Begitu Baik?

Karena kebiasaan ini memberi dua manfaat utama:

1. Kamu menghindari overworking

Overworking tidak membuatmu lebih produktif. Justru bikin kamu lambat esok harinya.

2. Menulis next steps mereset pikiranmu

Begitu kamu tuangkan pikiran ke tulisan, otakmu menganggap masalah itu “sementara selesai,” sehingga kamu bisa bener-bener off.

Aku sudah melakukan kebiasaan ini lebih dari 2 tahun, dan jujur—ini salah satu alasan kenapa aku bisa sedikit menjaga work-life balance dengan cukup stabil.


Kalau kamu sering kejebak "20 minutes adventure" yang jadi bencana, coba kebiasaan sederhana ini. Hasilnya mungkin jauh lebih besar daripada yang kamu kira.