Introduction
Sebagai seorang software engineer, kita semua tau rasanya ketika pekerjaan lagi banyak-banyaknya, sementara waktu fokus tanpa gangguan itu rasanya kayak barang mewah. Slack bunyi, meeting datang tiba-tiba, ada yang ngajak ngopi, atau kadang otak sendiri udah capek duluan sebelum kerjaan selesai.
Tapi anehnya, sering kali flow kerja paling produktif justru datang di akhir hari kerja. Dan di situlah masalah biasanya dimulai.
The "20 Minutes" Trap
Kamu pasti pernah mengalami momen ketika akhirnya nemu solusi elegan buat bug yang udah kamu kejar seharian. Semangat naik, adrenalin jalan, dan kamu berpikir:
"20 menit lagi deh, pasti kelar kok."
Padahal… ya kamu tau sendiri. Bukannya 20 menit, tapi 2–3 jam. Tiba-tiba kamu sadar sudah malam, kamu lapar, lelah, dan ironisnya: solusi yang kamu pikir akan selesai cepat malah makin banyak edge case-nya.
Yang lebih parah—kamu pulang dalam kondisi drained dan mulai hari besok dengan energi sisa.
Pengalaman Pribadi dari Masa Startup
Aku ngalamin hal ini sekitar 5 tahun lalu saat kerja di sebuah startup yang lagi cepat banget tumbuhnya. Suasana kantor seru, semua orang ngebut, dan lembur jadi hal yang biasa.
Suatu malam, aku merasa akhirnya berhasil memecahkan bagian sulit dari infrastruktur yang lagi aku garap. Pikiran pertama: "Ah, 20 menit lagi kelar nih."
Tapi 20 menit itu berubah jadi lebih dari 3 jam. Aku pulang ke apartemen dalam kondisi capek dan kesal—dan hasilnya? Nyaris nggak ada progress.
Keesokan paginya, pas jalan ke kantor aku sadar kondisi tubuhku: capek duluan sebelum mulai. Saat itu juga aku ngerti satu hal penting: lebih baik berhenti, tulis langkah selanjutnya, dan selesaikan besok.
Tapi Gimana Kalau Benar-Benar Bisa Kelar 20 Menit?
Ya, secara teori bisa. Tapi jujur: risikonya jauh lebih besar daripada hadiahnya.
Daripada gambling di akhir hari, ada kebiasaan yang jauh lebih aman dan jauh lebih efektif:
Kebiasaan yang Menyelamatkan Malamku
Alih-alih memaksa menyelesaikan task, gunakan 10–20 menit terakhir hari kerjamu untuk:
- Menuliskan pikiranmu
- Membuat step-by-step action plan untuk besok
- Meninggalkan sedikit "rasa gantung" agar besok mulai dengan momentum
Dengan cara ini:
- Kamu menutup hari dengan kepala yang lebih ringan.
- Kamu pulang tepat waktu.
- Kamu memulai hari esok dengan rencana matang.
- Fokusmu besok jauh lebih tajam karena kamu datang dengan energi penuh.
Dan bonusnya—sering kali ide baru justru muncul setelah otak kamu istirahat.
Mengapa Ini Bekerja Begitu Baik?
Karena kebiasaan ini memberi dua manfaat utama:
1. Kamu menghindari overworking
Overworking tidak membuatmu lebih produktif. Justru bikin kamu lambat esok harinya.
2. Menulis next steps mereset pikiranmu
Begitu kamu tuangkan pikiran ke tulisan, otakmu menganggap masalah itu “sementara selesai,” sehingga kamu bisa bener-bener off.
Aku sudah melakukan kebiasaan ini lebih dari 5 tahun, dan jujur—ini salah satu alasan kenapa aku bisa menjaga work-life balance dengan cukup stabil.
Kalau kamu sering kejebak "20 minutes adventure" yang jadi bencana, coba kebiasaan sederhana ini. Hasilnya mungkin jauh lebih besar daripada yang kamu kira.
